Pertemuan Kedua 62 Pemuda dari Berbagai Wilayah di Indonesia Perkuat Kesadaran Demokrasi dan Keadilan Sosial-Ekologis
Ditulis oleh M. Alif Akbar | 2026-04-12
Kelas Kedua Pendidikan SPEAK Justice Dengan Tema “Membangun Generasi Muda yang Kritis dan Aktif demi Terciptanya Keadilan Sosial dan Ekologis”
Minggu, 12 April 2026 - 62 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Kelas SPEAK Justice sesi kedua, pertemuan kedua ini diselenggarakan pada Minggu, 12 April 2026, pukul 08.00–10.15 WIB melalui platform Zoom. Sesi kedua ini bertemakan “Membangun Generasi Muda yang Kritis dan Aktif demi Terciptanya Keadilan Sosial dan Ekologis,” kelas kali ini menghadirkan Ahsan Jamet Hamidi sebagai narasumber dan dipandu oleh Moderator M. Ichlassul Amal. Kegiatan mencakup pemaparan materi, diskusi interaktif, dan Focus Group Discussion (FGD) mengenai analisis aktor dan relasi kekuasaan dalam isu sosial serta ekologis.
Demokrasi Indonesia: Dari Keterbatasan Orde Baru Menuju Tantangan Kontemporer
Narasumber membuka sesi dengan menelusuri perjalanan panjang demokrasi Indonesia, khususnya masa sebelum reformasi 1997-1998 ketika ruang kebebasan berpendapat sangat terbatas. Sistem politik yang hanya diisi tiga partai dengan dominasi kekuasaan yang kuat menyebabkan hasil pemilu cenderung dapat diprediksi dan pilihan rakyat menjadi sangat sempit. Gerakan golongan putih (golput) menjadi salah satu bentuk perlawanan simbolis masyarakat sipil terhadap sistem yang tidak memberi ruang partisipasi bermakna.
Narasumber menegaskan bahwa demokrasi tidak hadir secara instan. Ia merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan perjuangan masyarakat sipil secara kolektif. Meski kini ruang kebebasan berekspresi dan akses informasi semakin terbuka, tantangan baru terus bermunculan: dominasi elite dalam pengambilan kebijakan, politik uang, kurangnya transparansi, dan lemahnya akuntabilitas kekuasaan masih menjadi hambatan nyata bagi terwujudnya demokrasi yang sehat dan berkeadilan.
Pendidikan Politik Sebagai Kunci Penguatan Demokrasi
Dalam sesi diskusi interaktif, peserta dari berbagai daerah berbagi perspektif tentang elemen terpenting demokrasi. Kebebasan berpendapat dan partisipasi masyarakat menjadi dua nilai yang paling banyak disoroti. Peserta juga mengidentifikasi berbagai ancaman demokrasi di tingkat lokal maupun nasional, mulai dari praktik politik uang, dominasi kelompok tertentu, lemahnya transparansi kebijakan, hingga masih rendahnya kesadaran politik warga.
Narasumber menegaskan bahwa pendidikan politik menjadi instrumen krusial untuk mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak sekadar menjadi objek demokrasi, tetapi tampil sebagai subjek yang aktif, kritis, dan berdaya. Penguatan demokrasi harus dilakukan secara kolektif melalui peningkatan kesadaran kritis dan perluasan akses pendidikan politik di semua lapisan.
“Demokrasi bukan sesuatu yang hadir secara instan. Ia adalah hasil perjuangan panjang masyarakat sipil, dan tugas generasi muda adalah meneruskan perjuangan itu dengan kesadaran yang lebih kritis.” - Ahsan Jamet Hamidi, Narasumber Kelas SPEAK Justice
Melalui FGD Peserta Membedah Bagaimana Relasi Kekuasaan Memperparah Isu Sosial dan Ekologis
Sesi Focus Group Discussion (FGD) mengajak peserta memetakan aktor-aktor yang terlibat dalam isu sosial dan ekologis, mulai dari pemerintah daerah dan pusat, perusahaan swasta, organisasi masyarakat sipil, hingga kelompok rentan yang terdampak langsung. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa kekuasaan umumnya terkonsentrasi pada pemerintah dan korporasi yang memiliki akses terhadap sumber daya, regulasi, dan kebijakan.
Sementara itu, masyarakat lokal, petani, nelayan, dan kelompok rentan lainnya kerap menjadi pihak yang paling terdampak dengan suara yang paling sedikit didengar. Relasi kekuasaan yang terbentuk cenderung top-down dan tidak partisipatif. Namun peserta juga mencatat peran penting organisasi masyarakat sipil sebagai penyeimbang kekuasaan yang mendorong advokasi, pendampingan, dan penguatan kapasitas masyarakat menuju tata kelola yang lebih adil dan transparan.
Tentang Kegiatan
Pertemuan kali ini merupakan sesi kedua dari Kelas Pendidikan SPEAK Justice, diselenggarakan oleh Institut Hijau Indonesia dengan visi pengembangan advokasi dan kampanye digital berbasis temuan lapangan, peserta diharapkan dapat menghasilkan pengetahuan publik tentang demokrasi dari perspektif anak muda. Kelas kedua ini berlangsung pada Minggu, 12 April 2026, diikuti oleh 62 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan dipandu oleh Moderator M. Ichlassul Amal dengan narasumber Ahsan Jamet Hamidi, dan Operator Kelas M. Ridho Fauzan.
Informasi lebih lanjut
Narahubung : M Alif Akbar
Email : Civiceducationihi@gmail.com
Telepon : +6285285582586
Websita : instituthijauindonesia.or.id/
Berita Lainnya
-
Webinar Nasional YOU-RINGS Soroti Peran Generasi Muda dalam Transisi Energi yang Berkedaulatan dan Berkeadilan
| 2026-05-02 -
Kelas Mentoring Keempat Perkuat Strategi Transformasi Riset Akar Rumput Menjadi Konten Kreatif Penggerak Perubahan
| 2026-04-25 -
19 Fasilitator Muda SPEAK Justice Perkuat Strategi Pengorganisasian Warga melalui Kepemimpinan Fasilitatif dan Mobilisasi Sosial
| 2026-04-24 -
Dari Data ke Narasi Perlawanan: SPEAK Justice Siapkan Fasilitator Muda Menulis Laporan yang Menggerakkan Perubahan
| 2026-04-23 -
Kelas Mentoring Pertama 19 Fasilitator Muda SPEAK Justice Disiapkan Bangun Demokrasi dari Akar Rumput
| 2026-04-22 -
Trilema Baru Kapitalisme (Refleksi Hari Bumi)
| 2026-04-22 -
YOU-RINGS Bekali POKJA dan Fasilitator Daerah Lewat Onboarding dan Training of Trainers
| 2026-04-19 -
Partisipasi Politik Lokal: Mengurai Tantangan dan Memperkuat Demokrasi Substantif di Indonesia
| 2026-04-18 -
Ekonomi Konstitusi VS Oligarki: Bagaimana penerapannya di Indonesia?
| 2026-04-15 -
Sesi Ketiga Kelas SPEAK Justice: Bedah Dinamika Politik Lokal dan Tantangan Demokrasi Substantif di Indonesia
| 2026-04-13