Webinar Nasional YOU-RINGS Soroti Peran Generasi Muda dalam Transisi Energi yang Berkedaulatan dan Berkeadilan

Ditulis oleh Amalia Zulfa Pritasari | 2026-05-02

Jakarta — Institut Hijau Indonesia bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menggelar Webinar Nasional YOU-RINGS bertajuk “Youth Rising for Green and Just Energy Sovereignty” pada Sabtu (2/5/2026). Kegiatan ini menyoroti peran strategis generasi muda dalam mendorong kedaulatan energi hijau yang berkeadilan sosial dan ekologis di tengah meningkatnya krisis iklim global. 

Agenda ini dibuka dengan sambutan Ketua Institut Hijau Indonesia, Chalid Muhammad, yang menekankan pentingnya momentum kolektif untuk mendorong kesadaran publik terkait transisi energi. Beliau menyampaikan bahwa upaya peralihan energi tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga harus memastikan keadilan sosial dan ekologis bagi seluruh lapisan masyarakat.

Agenda kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari para keynote speaker yang menggarisbawahi arah kebijakan dan pentingnya pendidikan energi. Prof. Ahmad Erani Yustika, Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, menyoroti peran negara dalam tata kelola energi nasional, sekaligus menegaskan pentingnya hilirisasi dan kemandirian energi berbasis prinsip keadilan dan keberlanjutan. Sementara itu, Arie Wibowo Khurniawan, Direktur Sekolah Menengah Kejuruan,  menekankan urgensi membangun kesadaran ekologis melalui literasi energi sejak dini, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal, sebagai fondasi menghadapi tantangan krisis energi dan iklim.

Memasuki sesi diskusi, para narasumber mengangkat berbagai perspektif kritis terkait kondisi energi di Indonesia. Atina Rizqiana, Peneliti Senior Center of Economic and Law Studies (CELIOS),  menyoroti dampak sosial dan ekologis dari praktik hilirisasi industri, khususnya di sektor pertambangan, yang dinilai masih menyisakan ketimpangan dan beban bagi masyarakat lokal. Ia mendorong pentingnya transisi energi yang berkeadilan dengan memperkuat pengetahuan kritis serta solidaritas komunitas.

Pandangan serupa disampaikan oleh Muh. Jamil, Kepala Divisi Hukum dan Kebijakan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), yang menilai persoalan energi tidak terlepas dari dinamika politik dan tata kelola yang eksploitatif. Ia menegaskan pentingnya demokrasi energi agar masyarakat memiliki ruang partisipasi yang adil dalam proses pengambilan keputusan, sekaligus mengkritisi masih kuatnya ketergantungan pada energi fosil.

Sebagai penutup sesi pemaparan narasumber, Rahmat Jaya Eka Syahputra, Kepala Pelibatan Pemangku Kepentingan Industri dan Penjangkauan Institute for Essential Services Reform (IESR)  memaparkan peluang dan tantangan dalam membangun industri hijau di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa dekarbonisasi sektor industri menjadi langkah penting melalui efisiensi energi, inovasi teknologi, serta pemanfaatan energi terbarukan, meskipun masih dihadapkan pada tantangan biaya, infrastruktur, dan regulasi.

Selain menjadi ruang diskusi publik, webinar ini juga turut memeriahkan momentum Hari Pendidikan Nasional dengan mendorong penguatan literasi energi yang berkeadilan dan berkedaulatan di kalangan generasi muda. Kegiatan ini sekaligus menjadi rangkaian awal (pre-event) dari peluncuran program pendidikan YOU-RINGS (Youth Rising for Green and Just Energy Sovereignty) yang akan segera dibuka bagi pemuda usia 18–30 tahun di seluruh Indonesia yang ingin mendalami isu transisi dan kedaulatan energi terbarukan, dengan informasi pendaftaran yang akan diumumkan dalam waktu dekat melalui media sosial resmi Institut Hijau Indonesia.