Peserta YOU-RINGS Diajak Memahami Energi dari Kehidupan Sehari-hari hingga Tantangan Transisi Energi Nasional

Ditulis oleh Diki Angger A. | 2026-06-08

Jakarta, 7 Juni 2026 — Upaya mendorong keterlibatan generasi muda dalam agenda transisi energi berkelanjutan terus diperkuat melalui program pendidikan Youth Rising for Green and Just Energy Sovereignty (YOU-RINGS). Memasuki kelas intensif kedua, para peserta diajak memahami konsep dasar energi serta relevansinya dalam kehidupan sehari-hari melalui tema “Pemahaman Dasar Mengenai Energi dan Konsep Pemanfaatannya dalam Kehidupan Sehari-Hari” yang diselenggarakan secara daring pada Minggu (7/6).

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.30 hingga 12.30 WIB tersebut dipandu oleh Felisitas Radita Maharani sebagai master of ceremony dan Rizky Kusumo Putro sebagai moderator. Keduanya merupakan alumni program pendidikan Green Leadership Indonesia yang turut berkontribusi dalam penguatan kapasitas generasi muda pada isu lingkungan dan energi.

Pada sesi pertama, peserta memperoleh pemahaman mengenai arah kebijakan energi nasional dari Nurcahyanto, S.T., M.Sc., Koordinator Penerapan Teknologi Konservasi Energi pada Direktorat Konservasi Energi, Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Dalam pemaparannya, Nurcahyanto menjelaskan bahwa sektor energi menjadi salah satu fokus utama Indonesia dalam upaya pengendalian perubahan iklim. Melalui dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (Enhanced NDC), Indonesia menargetkan pengurangan emisi sektor energi hingga 358 juta ton setara karbon dioksida (tCO₂e) pada tahun 2030. Selain itu, pemerintah juga menargetkan tercapainya Net Zero Emission (NZE) sektor energi pada tahun 2060 atau lebih cepat sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah telah menyiapkan berbagai strategi, mulai dari percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan dengan target kapasitas mencapai 105 gigawatt hingga tahun 2040, pembangunan sistem super grid yang menghubungkan berbagai wilayah, hingga penerapan berbagai kebijakan efisiensi energi.

“Transisi energi tidak hanya berbicara mengenai pembangunan pembangkit energi terbarukan, tetapi juga bagaimana penggunaan energi dilakukan secara lebih efisien di seluruh sektor,” jelas Nurcahyanto dalam pemaparannya.

Ia juga menjelaskan sejumlah instrumen kebijakan yang tengah dikembangkan, seperti implementasi biodiesel B40, pengembangan bioetanol E5, pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap melalui Permen ESDM Nomor 11 Tahun 2024, serta penerapan Standar Kinerja Energi Minimum (SKEM) yang saat ini mencakup sembilan jenis peralatan listrik dan ditargetkan bertambah hingga lima jenis peralatan baru sebelum tahun 2030.

Sementara itu, pada sesi kedua, peserta diajak melihat energi dari perspektif yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari melalui pemaparan Safry Sitorus, alumni Green Leadership Indonesia Batch 3 yang saat ini berkarier sebagai Plant Metallurgist di Almonty Industries Inc.

Mengusung tema “Mengenal Energi: Memahami Jejak Fosil, Menghitung Emisi, Menggerakkan Transisi”, Safry mengajak peserta memahami hubungan antara konsumsi energi individu dengan tantangan perubahan iklim global. Ia menjelaskan bahwa sektor energi menyumbang sekitar 73 persen emisi gas rumah kaca dunia, sehingga perubahan pola konsumsi energi menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung dekarbonisasi.

Dalam pemaparannya, Safry membandingkan tingkat emisi berbagai sumber energi. Operasional pembangkit berbahan bakar batu bara, misalnya, menghasilkan emisi sekitar 820 gram CO₂ ekuivalen per kilowatt-jam listrik, jauh lebih tinggi dibandingkan energi terbarukan yang berada pada kisaran 11 hingga 48 gram CO₂ ekuivalen per kilowatt-jam.

Melalui pendekatan Energy Diary, peserta diajak mengenali konsumsi energi mereka sendiri melalui tahapan “Tahu, Peduli, dan Aksi”. Peserta mempraktikkan cara menghitung penggunaan energi harian menggunakan rumus daya dikalikan waktu, kemudian mengonversinya menjadi estimasi emisi karbon dengan menggunakan faktor emisi jaringan listrik nasional sebesar 0,83 kilogram CO₂ ekuivalen per kilowatt-jam.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu peserta memahami bahwa upaya transisi energi tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah maupun perkembangan teknologi, tetapi juga dipengaruhi oleh keputusan sehari-hari masyarakat dalam menggunakan energi.

Setelah sesi pemaparan dan diskusi umum, peserta mengikuti diskusi kelompok dalam breakout room yang difasilitasi oleh Fasilitator Daerah. Melalui forum tersebut, peserta mendiskusikan isu energi berdasarkan konteks dan tantangan di wilayah masing-masing, sekaligus memperkaya perspektif mengenai kondisi ketahanan dan kedaulatan energi di berbagai daerah Indonesia.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi permainan interaktif yang bertujuan membangun kebersamaan sekaligus memberikan ruang refleksi atas materi yang telah dipelajari.

Melalui kelas intensif ini, YOU-RINGS berupaya memperkuat literasi energi generasi muda Indonesia agar tidak hanya memahami isu energi dari aspek teknis dan kebijakan, tetapi juga mampu melihat keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari serta perannya dalam mewujudkan transisi energi yang berkeadilan dan berkelanjutan.